muzeyyen salik

Ditagih Utang Ghoib

Cerita Fiksi
Nabil sudah cukup penat dengan semua ini. Keinginannya untuk hidup mandiri memang patut diacungi jempol. Apalagi sebelum menikah, dia sudah terbiasa hidup sendiri. Dengan menyewa sebuah kamar kos yang ukurannya seukuran kamar mandi di rumah suaminya.

Mungkin ini karena dia terlalu lama pulang kampung dengan anaknya. Hubungan dengan suami yang memang kurang well, membuat Nabil enggan cepat-cepat pulang ke rumah suaminya. Terlebih pandemi Covid, membuat Nabil harus berlama-lama di kampung halaman. 

Bagaimana dengan kehidupan sehari-hari Nabil? Kebetulan awal kepulangan Nabil, belum terjadi apa-apa. Suaminya juga memberikan uang yang bagi Nabil tidak terlalu kecil. Ada beberapa dolar, uang di atm dan lainnya. Nabil menggunakan uang itu untuk keperluan hidup di kampung. Meskipun Nabil tahu, ibu Nabil mempunyai penghasilan. Dia tidak pernah meminta uang kepada ibunya.

Karena terlalu lama di kampung, uang Nabil semakin menipis. Pernah suatu ketika, dia ingin menukarkan beberapa dolar yang masih rapi di dompetnya. Setelah mengunjungi beberpa bank, qadarullah ada beberapa syarat kelengkapan yang kurang. Akhirnya Nabil kembali dengan tangan kosong. 

Bagaimana dengan suami Nabil, apakah tidak mengirimi uang lagi untuknya? Suami Nabil, memang susah ditebak, dan Nabil juga paham atas itu. Walaupun tidak punya uang Nabil juga tidak meminta suaminya untuk mengirimi uang. Bagi Nabil, klo suaminya mengirimi uang itu rezeki dia, tapi jika tidak ya sudah. Nabil tidak akan mengharapkan apapun.

Sebungkus Nasi Untuk Pagi Dan Malam Hari

Uang Nabil tampaknya memang sudah menipis. Usaha yang dijalani Nabil juga tampak tidak selancar awal dia pulang dulu. Seperti biasa, Nabil akan membeli makan di luar untuk dia dan anaknya.

Kebetulan kondisi di rumah Nabil dengan ibunya kadang juga mengalami ketidak cocokan. Ini yang membuat Nabil, malas juga ikut makan di rumah. Karena Nabil merasa tidak ikut membantu dalam mencari uang.

Pagi itu, Nabil dan anaknya pergi ke sebuah warung yang menjual Nasi Padang, tepat di pertigaan depan gang rumahnya. Enaknya Nasi Padang itu, disamping mendapat nasi yang banyak lauknya juga banyak. Nabil beli satu bungkus, dengan lauk ayam goreng, sambal yang minta di pisah, dan kuahnya. 

Ini karena uang Nabil memang sudah tidak ada. Nabil pun pulang dengan membawa sebungkus Nasi Padang yang disantap dengan anaknya yang masih kecil. Sengaja Nabil membagi nasi itu menjadi dua, dan lauk yang disisakan. Sembari berkata kepada anaknya, "Nduk, ini nanti di maem nanti ya, ibu bungkus lagi". Anaknya mengangguk, sembari menjawab, "ya bu".

Rasanya pagi itu, air mata Nabil serasa ingin meluap-luap. Dadanya terasa sangat sesak. Sempat Nabil meminta kepada ibunya untuk bekerja di tempat yang sama dengannya. Tapi ibunya seakan-akan tidak menyetujui itu semua. Entahlah apakah mungkin ibu Nabil malu, anaknya yang dinikahi dengan orang luar malah bekerja di tempat yang sama dengan ibunya.

Tapi pada kenyataannya, Nabil berperang batin. Dia butuh pekerjaan, untuk menghidupi anaknya, setidaknya untuk makan sehari-hari. Hingga akhirnya Nabil, mempunyai niat untuk bekerja di luar negeri.

Nabil Berniat Bekerja Ke Luar Negeri

Kondisi keuangan Nabil semakin tidak kondusif. Yang ada dipikiran Nabil waktu itu, memang sudah tidak ingin kembali ke negara suaminya. Tapi ada anak kecil yang harus Nabil penuhi kebutuhannya. Bagaimana dengan masa depan anak Nabil, jika dia tidak mempunyai pekerjaan.

Nabil menggunakan gawainya, mencari informasi bekerja di luar negeri. Pada waktu itu, Nabil benar-benar tidak mempunyai uang. Sedangkan bekerja di luar negeri pasti butuh modal, untuk membayar beberapa syarat apalagi jika lewat agensi.

Nabil mengunjungi BP3TKI di daerahnya, disana Nabil mendapatkan informasi tentang keberangkatan TKI. Tapi sayangnya pada waktu itu, momennya kurang tepat. Pembukaan program GTG belum ada lagi. Sedangkan jikapun ada tetap akan dikenakan biaya yang harus dibayarkan. Sedangkan Nabil tidak punya uang, mau tidak mau Nabil harus mengambil cara lain.

Disarankan Lewat Agensi

Nabil menceritakan niatnya untuk bekerja ke luar ngeri kepada keluarganya. Walaupun sebenarnya hati Nabil berperang, banyak pikiran-pikiran yang berkecambuk didalam kepalanya. Terlebih nasib anaknya, jika dia tinggalkan untuk bekerja jauh. Karena Nabil, tidak mempercayai siapapun yang bisa merawat anaknya.

Pada akhirnya Nabil mendapat penawaran bekerja di luar negeri. Nabil mengikuti alurnya, tentu pekerjaan ini lewat agensi, cuma klo bisa dibilang malah seperti calo. Awalnya Nabil diajak kerumah teman kerabatnya yang sekaligus teman agensi. Disana Nabil berdiskusi, sekaligus membicarakan biaya yang harus di keluarkan. Tentu saja, Nabil tidak bisa membayar sejumlah uang tersebut. Tetapi teman agensi memberikan opsi, dia mau memberikan pinjaman uang itu untuk Nabil.

Setelah perbincangan itu selesai,  Nabil memutuskan pulang ke rumah. Selang beberapa hari seorang agensi menghubugi Nabil untuk menyerahkan beberapa dokumen syarat yang harus dipenuhi. 
Cerita fiksi

Agensi Datang Ke Rumah Nabil

Siang itu telepon genggam Nabil berbunyi, nampaknya si agensi menelepon Nabil dan mengabari akan ke rumah Nabil sore hari. Hari itu Nabil menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan. 

Sore hari si agensi datang bersama suaminya, kami berkenalan dan mengobrol. Disela-sela perbincangan kami membahas soal uang, dia berkata jika uang keberangkatan atau apa itu sudah diterima dia, sembari dia mengeluarkan secarik kwitansi yang mengharuskan Nabil bertanda tangan di sana.

Menurut Nabil ada kejanggalan di sana, apakah benar uang yang dipinjamkan itu nyata. Karena pada saat penyerahan uang Nabil tidak menyaksikan bahkan tidak diberi tahu. Saat penyerahan uang juga tidak ada bukti foto. Saat dalih penyerahan uang teman agensi ke agensi juga tidak memberi kabar kepada Nabil.

Perasaan Nabil Semakin Tidak Karuan

Terlepas dari kejanggalan itu, lagi-lagi alasan terberat adalah harus meninggalkan anaknya. Perasaan tidak karuan, kacau, sedih, dan semua bayang-bayang masa lalu Nabil seakan-akan menyerangnya. 

Nabil mencoba menenangkan diri dan berfikir secara luas. Nabil percaya Allah pasti akan memberikan jalan terbaik untuknya. Nabil mulai mencari-cari informasi tentang TKI negara tujuan. Entah apa itu, tidak informasi yang baik tetapi yang keluar informasi-informasi menakutkan, dari depresi sampai human trafficking. 
Cerita Fiksi
Informasi itu membuat Nabil berpikir keras, bagaimana nasib anak Nabil, jika semua itu juga terjadi pada Nabil. Nabil mulai bimbang, tapi Nabil masih menunggu dan percaya suatu saat Allah akan memberikan petunjuk kepada dia. Keputusan terbaik apa yang seharusnya diambil.

Mendapat Telepon Kembali Dari Agensi

Sore itu telepon genggam Nabil berdering lagi. Nabil tampak sudah tidak bersemangat ketika melihat siapa yang meneleponnya.

Seperti biasa basa-basi di awal percakapan hingga akhirnya si agensi membahas suatu hal yang membuat Nabil tercenggang. 

Cerita Fiksi

Dari pertemuan kemarin sampai ini Nabil tidak dbekali apapun oleh si agensi, dalam artian buku pembelajaran atau apa. Kantor pusat dari si agensi juga tidak fix ada di mana. Dalam artian Nabil ini bener-bener kurang tahu nama agensi, alamat, nomor telepon kantor dll. 

Untuk jenis pekerjaan sendiri Nabil juga tidak diberi tahu pastinya. Bayangan Nabil waktu itu, akan dipekerjakan di pabrik, atau mungkin menjadi nanny, atau bersihin rumah. 

Cuma yang bikin kaget dan shock, waktu si agensi ini meminta Nabil untuk memakai semacam jimat. Auto Nabil bertanya, "untuk apa?". Kata si agensi karena didunia pekerjaan itu banyak saingan. Klo pakai peganggan atau jimat biar bos suka sama Nabil. 

Saat mendengar penjelasan itu Nabil mulai semakin yakin, klo ada yang tidak beres. Dan akhirnya Nabil memutuskan untuk tidak melanjutkan itu semua. 

Lalu bagaimana dengan uang yang dalihnya sudah diterima oleh si agensi. Yang ini artinya, Nabil mempunyai hutang kepada teman agensi tersebut. Anehnya no wa Nabil diblok oleh dua orang itu. Tetapi nasib utang ghoib itu masih ditanyakan dan ditagih lewat kerabat Nabil. Tapi kenapa teman agensi itu, sama sekali tidak menanyakan langsung ke Nabil. Justru kerabat Nabil yang minta, Nabil mengubungi dia, meminta maaf dan memberikan informasi kapan utang itu mau dibayar. Karena kerabat Nabil merasa tifak enak, dikarenakan si temen agensi ini adalah teman dari kerabat Nabil.



Müzeyyen Salik
Seorang ibu rumah tangga yang menyukai kerajinan tangan, belajar hal baru, dan pantang menyerah.

Related Posts

Posting Komentar