muzeyyen salik

Alfira Oktaviani: Saya Ditantang Ayah Saya Untuk Eksplorasi Ecoprint Ke Media Kulit Kayu Lantung

63 komentar

 

Alfira Oktaviani
Awalnya aku mengira Lantung adalah nama sebuah daerah atau tempat tinggal. Ternyata aku salah besar, untungnya aku berhasil mewawancarai sosok ibu muda lulusan Apoteker Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta yang sangat menginspirasi lewat gawaiku. Beliau juga merupakan founder dari Semilir Ecoprint sekaligus pemenang Satu Indonesia Award 2022 yang diadakan oleh ASTRA.

Aku memilih mba Fira untuk mewawancarainya bukan karena tanpa sebab. Ini karena aku merasa sudah punya klik sepemikiran dan sejalan sama-sama mencintai dunia seni.

Setelah aku berhasil mendapatkan nomor mbak Fira dari data pemenang Satu Award 2022, aku langsung ambil gawaiku dan mengirimkan pesan singkat untuk membuat janji wawancara dengan mbak Fira. Dan Alhamdulillah, tidak lama mba Fira langsung merespon pesan singkatku dan menyetujui untuk melakukan wawancara melalui Whatsapp. 

Perjalanan Mbak Fira Membangun Semilir Ecoprint

Semua berawal dari keinginan mbak Fira memulai usaha yang berbeda, dan akhirnya bertemulah dengan ecoprint. Karena takjub akan hasil dari ecoprint itu sendiri, terlebih cara pengerjaannya dengan menggunakan daun-daun disekitar yang ramah lingkungan dan menghasilkan motif kain yang sangat indah. Akhirnya mbak Fira mulai belajar dan mengeksplorasi sendiri tentang ecoprint.

Brand Semilir sendiri dibuat pada Januari 2018, dan mulai mengajak masyarakat di akhir tahun 2018. Pada waktu itu ecoprint masih terbilang sangat baru sehingga menimbulkan rasa penasaran orang-orang tentang proses pembuatannya.

Awal mengedukasi masyarakat, mbak Fira diminta teman-teman KKN di desanya karena kebetulan mbak Fira ini warga baru. Dari situlah awal kegiatan pelatihan dimulai. Proses edukasi yang dilakukan juga dengan hal-hal konkrit, jelas dalam memberikan semua informasi baik dari proses sampai prospek market. 

Bahkan ecoprint sekarang sudah masuk beberapa pelajaran anak-anak TK maupun SD di kurikulum merdeka. Pengrajin ecoprint ini tidak memandang usia pra- sampai lansia, dan kebanyakan dilakukan oleh para ibu rumah tangga.

Semilir Ecoprint juga berkolaborasi dengan anak Institut Seni Indonesia dengan menerapkan sistem daun ukir di media daun jati untuk pembuatan ecoprintnya. Produk ecoprint "TAS BETA" dari kolaborasi ini turut mendukung kampanye konservasi kukang jawa. Dimana status populasinya di alam terancam mengalami kepunahan oleh maraknya perburuan, kerusakan habitat, serta perdagangan satwa liar. Sebagian dari keuntungan penjualan produk ecoprint "Tas Beta" ini akan digunakan untuk konservasi kukang jawa maupun satwa liar lainnya yang berada di hutan Kemuning, Temanggung Jawa Tengah.

Semilir Ecoprint juga berkolaborasi dengan hutan Wanagama, Yogyakarta dan fakultas kehutanan UGM dengan program binaan di desa Gunungkidul. Program yang diadakan itu tidak hanya untuk pelatihan saja tetapi pendampingan dari hulu ke hilir. Hasıl ecoprint dari pemuda-pemudi dan ibu-ibu desa Banaran ini akan dibuat dan dijual sebagai produk seminar kit atau corporate souvenir. Dengan harapan kedepannya akan menjadi siklus yang menggerakan perkembangan ekonomi desa.
Proses pembuatan ecoprint

Eksplorasi Ecoprint Ke Media Kulit Lantung

Aku kira mbak Fira ini asli Bengkulu, ternyata mbak Fira berasal dari Yogyakarta. Sedangkan Bengkulu adalah kampung halaman ayah dari mbak Fira. Di Bengkulu inilah mbak Fira bertemu dengan kulit kayu Lantung yang memang sudah menjadi souvenir khas daerah Bengkulu.

Saya ditantang Ayah saya untuk eksplorasi ecoprint ke media kulit kayu Lantung.

Untuk mengeksplorasi ecoprint ke media kulit Lantung ini butuh effort yang luar biasa. Setelah dianggap berhasil mengedukasi masyarakat, team Semilir ini akhirnya lolos FBK (Fasilitasi Bidang Kebudayaan) 2020 dari Kemdikbud.

FBK sendiri merupakan bantuan pemerintah dalam bentuk dana yang diberikan kepada komunitas budaya, lembaga atau organisasi kemasyarakatan yang bergerak dibidang kebudayaan. Untuk melakukan dokumentasi karya, penelitian, pendayagunaan ruang publik untuk pemajuan kebudayaan. 

Dana tersebut kemudian digunakan untuk menggali lebih dalam tentang kulit kayu Lantung dari hulu ke hilir. Hal ini dikarenakan literatur maupun sejarah dari kulit kayu Lantung belum ada yang mengangkat. Oleh karena itu untuk menginovasi masyarakat luas mbak Fira harus mengunjungi sumber tentang kulit kayu Lantung.

Setelah selesai dari FBK yang bertujuan mengedukasi masyarakat lewat program-program dari Semilir ini, ternyata team Semilir membutuhkan exposure. Langkah yang diambil adalah dengan mengikuti berbagai pameran bazar untuk mengaungkan kulit kayu Lantung yang sudah diolah menjadi ecoprint tersebut.

Untuk mengenalkan media si kulit kayu Lantung ini sedikit berat, kata Mba Fira. Ini dikarenakan masyarakat belum familiar ditambah dengan teknik ecoprint yang baru. Sedangkan untuk menjadi sebuah produk sampai sekarang ini banyak instansi-instansi yang terlibat. Tidak hanya para pengrajinya saja, tetapi designer dari beberapa instansi pemerintah turut memfasilitasi dan ikut membantu apa yang mbak Fira butuhkan. Mulai dari pengujian lab sampai proses finishing yang bertujuan agar konsumen tetap setia dan kembali ke produk-produk dari Semilir.

Perjalanan Menelusuri Jejak Kulit Kayu Lantung

Berawal dari mimpi untuk menelusuri jejak kulit kayu Lantung di Bengkulu yang merupakan tanah kelahiran dari Ayah Mba Fira. Karena selama ini mba Fira hanya mendapatkan produk kayu Lantung berupa lembaran saja. Tanpa melihat secara langsung proses pembuatanya, siapa yang membuat, dan masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di benaknya.

Hal yang menarik bagi mba Fira adalah penetapan kulit Lantung sebagai warisan budaya tak benda Indonesia dari Bengkulu pada tahun 2015. Ini yang membuat mba Fira semakin bersemangat untuk mengumpulkan jurnal tentang kulit kayu Lantung. Hingga akhirnya kesempatan itu datang  diakhir tahun 2020, yang membawa mbak Fira mengunjungi desa dimana kulit kayu Lantung dibuat.

Dari Bengkulu menuju desa Papahan ditempuh dengan jarak 250 km. Desa Papahan merupakan desa yang sebagian besar penduduknya membuat kulit kayu Lantung. Kulit kayu Lantung berasal dari pohon Trap dengan nama ilmiah Artocarpus Ertalicus yang sejenis dengan pohon sukun-sukunan yang mempunyai getah sehingga tidak mudah membuatnya rusak. 

Sejarah Kain Lantung

Kain Lantung yang berasal dari Bengkulu dipergunakan pada jaman Jepang. Pada awalnya dibuat hanya untuk tali beronang yang dikalungkan di kepala untuk membawa hasil-hasil kebun ke rumah. Karena kesulitan tekstil pada jaman Jepang akhirnya mereka menggunakan kain Lantung untuk sarung dan juga selimut.

Dan ada sebagian juga yang digunakan untuk pembuatan baju. Awal mula dinamakan kain Lantung ini karena dari proses pembuatannya yang dipukul-pukul sehingga mengeluarkan bunyi "Tung-Tung" ini mengapa kulit kayu yang diolah menjadi kain itu disebut dengan Lantung.

Dalam proses pengulitan kulit kayu juga harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati. Untuk mendapatkannya kulit kayu dibuka dan dikelupas dari inti batang kayu untuk menghasilkan lembaran kulit kayu yang basah dan bergetah.

Proses selanjutnya yaitu pemukulan kulit Lantung menjadi lembaran dengan alat pukul yang disebut Perikai. Yaitu sejenis alat pukul keras dengan panjang dan besarnya 40x10cm. Sedangkan alas yang digunakan adalah kayu balik dari kayu Gadis

Alfira Oktaviani: Benar-Benar Astra  Mengapresiasi Apa Yang Saya Kerjakan

Sampai akhirnya adanya program Satu Award yang merupakan wujud apresiasi ASTRA untuk masyarakat yang telah berkontribusi mendukung terciptanya kehidupan berkelanjutan melalui bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan teknologi serta satu kategori kelompok yang mewakili salah satu bidang tersebut.

Kemudian mbak Fira mengikuti program Satu Award karena melihat visi misi satu Indonesia yang mirip dengan prinsip apa yang ada di dalam diri Mba Fira. Hingga akhirnya bak Fira terpilih menjadi pemenang penerima Apresiasi Satu Indonesia Award 2022 di bidang kewirausahaan Pelestari Kain Lantung Bengkulu. Padahal tidak ada persiapan apapun yang dilakukan dalam mengikuti program apresiasi ASTRA Award ini.

Makanya saya nangis waktu itu. Benar-benar ASTRA mengapresiasi apa yang saya kerjakan, ujar mba Fira.
Proses pembuatan ecoprint
Meskipun mungkin tanpa persiapan dalam mengikuti ASTRA Award 2022 tapi mbak Fira sudah melalui perjalanan, usaha, dan perjuangan yang luar biasa hingga di titik ini.

Untuk pembuatan ecoprint sendiri bahan yang dibutuhkan antara lain;
  • Kain
  • Soda ash atau soda kue
  • Tunjung 
  • Cuka 
  • Kapur
  • Dedaunan dan bunga
  • Alat kukusan
  • Selang
  • Plastik
  • Ember
Beberapa kendala juga pernah dilalui mbak Fira ketika terjadinya wabah COVID, padahal mbak Fira harus terus memperkenalkan sesuatu yang baru yaitu ecoprint dan juga mengaungkan si Lantung. Dengan adanya wabah COVID mbak Fira tidak bisa mengikuti pameran, padahal dengan adanya pameran orang-orang bisa melihat langsung dan meraba produk ecoprint dari kain kulit lantung ini.
Proses pembuatan ecoprint

Mengeluarkan Produk Ready To Wear Brand Baru Sri Ning Ati

Sampai saat ini mba Fira masih masih terus mengikuti beberapa kegiatan dari Kemendag. Adapun kegiatan lain seperti mengikuti bazar dimana target pasarnya merupakan beberapa ekspatriat.

Produk Semilir Ecoprint sendiri sudah sampai di beberapa negara seperti Australia, Jepang, Korea, dan US. Mba Fira terus melakukan kegiatan empower yang sesuai visi misi dengan konsep sustainable. Tidak hanya itu mba Fira juga fokus pada kesejahteraan masyarakat Bengkulu.

Harga kain dari kayu Lantung ini terbilang sangat murah hanya Rp 5000,- perlembarnya. Padahal proses pembuatannya membutuhkan proses yang tidak gampang dan membutuhkan tenaga. Dengan harga yang dianggap masih belum sepadan inilah menjadi salah satu faktor yang membuat Mba Fira membuat ecoprint menggunakan kain Lantung. Tujuannya supaya meningkatkan value dari kulit kayu lantung itu sendiri. Sedangkan Mba Fira membeli kain Lantung itu sendiri dengan harga Rp 20.000,- perlembarnya.

Kini mbak Fira telah mengeluarkan produk ready to wear brand baru dengan nama Sri Ning Ati by Semilir dengan tema Culture Indonesia yang menerapkan visi dan misi sama seperti Semilir. Dengan menggunakan serat alami seperti kain linen dan juga kain tencel yang cara pembuatannya jelas yang lebih mudah terurai daripada polyester. Pengerjaanyapun menggunakan alat tenun bukan mesin.
Proses pembuatan ecoprint

Akan Berkolaborasi Bersama Sesama Pemenang Award

Obrolanku bersama mbak Fira ini semakin seru saja. Padahal belum kenal lama tapi rasanya sudah kaya cocok dan klik. Rasanya seperti mendapat energi positif dan semangat baru. Sampai akhirnya mbak Fira sedikit memberi bocoran kedepannya tentang project Sri Ning Ati yang akan berkolaborasi bersama sesama pemenang Satu AWARD mas David di kategori lingkungan Konservasi Laut Dan Pemberdayaan Ekonomi.

Tambah penasarankan kira-kira konsep kolaborasinya nanti akan seperti apa. Jadi nantinya setiap pembelian produk Semilir maupun Sri Ning Ati by Semilir akan berkontribusi dalam Bakau Adoption atau pohon asuh. 
 
Pohon asuh sendiri merupakan program penyelamatan hutan untuk menyaring pendanaan dari beberapa pihak sebagai operasional perlindungan hutan dan peningkatan ekonomi masyarakat sebagai upaya menjaga hutan.

Rasanya benar-benar seru wawancara ngobrol bareng mbak Fira, banyak pengetahuan, pembelajaran yang bisa aku ambil. Satu gerakan dari diri kita bisa merubah nasib orang lain. Satu gerakan dari Mba Fira bisa memberikan kehidupan berkelanjutan untuk masyarakat Bengkulu, Yogyakarta, dan sekitarnya, bahkan lingkungan. Satu gerakan Satu AWARD dari ASTRA ini mampu merubah masyarakat menjadi lebih baik dan juga memberikan peluang agar kita berlomba menjadi pribadi yang positif, kreatif, inovatif, dan bermanfaat.

Müzeyyen Salik
Seorang ibu rumah tangga yang menyukai kerajinan tangan, belajar hal baru, dan pantang menyerah.

Related Posts

63 komentar

  1. sangat kreatif dan unik, menjadikan ecoprint dari kreasi biasa menjadi kreasi luar biasa sehingga nilai ekonominya juga naik, pantas saja kalo mbak fira bisa mendapatkan nominasi Satu AWARD dari ASTRA.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa usahanya tidak sia-sia dan membuahkan hasil

      Hapus
  2. Wah keren mbak sampai wawancara langsung. Keren mbak Fira ya perjalanan dan usahanya membawa dirinya menjadi penerima awards ASTRA. Kreatif bgt dengan bahan2 yg ada jadi sesuatu nilai yg berharga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mbak, karena aku mikir kita punya vibes yang sama jadi enak juga ngobrol sama mbak fira

      Hapus
  3. Ijin save ya, mba..kebetulan saya sedang cari referensi mengenai ecoprint..ada beberapa bahan yang saya tidak tahu. Baru tahu juga media nya bisa kulit kayu bukan hanya kain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh banget mbak, ini bisa di coba juga ya membuat ecoprint bersama anak anak di rumah seru sepertinya

      Hapus
  4. wah artikel yang sangat bermanfaat, terimakasih infonya ya kak :D

    BalasHapus
  5. Ecoprint emang lagi trend banget ya.... Lebaran kemarin banyak banget yang mengenakan busana dengan bahan yang ecoprint. Bangga banget lihatnya. Ini apalagi kalau dipadi dengan kain tradisional seperti kain lantung.... Pasti hasilnya bernilai seni tinggi dan sekaligus meningkatkan nilai jual kain lantung...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Pak Dokter pengaplikasian ecoprint dengan kulit Lantung menambah nilai jual yang pastinya juga meningkatkan pemberdayaan dan ekonomi masyarakat

      Hapus
  6. Akupun baru tau tentang kayu lantung itu, ku kira memang nama daerahnya. Keren ya mbak fira ini, menggunakan media kayu lantung untuk eco print. Jadi makin beragam bahan yang bisa dibuat ke eco print

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa kan ku kira juga awalnya nama daerah luh, ee setelah ngobrol trnyata itu kulit kayu

      Hapus
  7. Ecoprint ini termasuk produk yang baru dan masih minim masyarakat yang tahu. Beruntungnya ada mbak Fira yang membuat produk fashion dari kulit kayu lantung ini. Kisahnya sangat menginspirasi, semoga makin banyak yang terinspirasi dari semangatnya mbak Fira menggunakan Teknik Ecoprint.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga idenya juga bisa nular ke kita semua ya mbak.

      Hapus
  8. Setelah batik, nilai kain-kain tradisional dari daerah lain mulai menunjukkan signifikan yang lumayan. Bangga diri menjadi orang Indonesia. Tiap daerah selalu memiliki motif larik yang berbeda-beda. Baru dari Aceh ke Sumatera Utara saja sudah puluhan macam bentuk rupanya. Benar-benar khatulistiwa ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget klo ngomongin batik aq paling suka dengan batik mega mendung

      Hapus
  9. Ecoprint ini sedang hits banget ya kak, di Balikpapan juga ada nih tapi setiap daerah pasti beda-beda kan ya... kereeen banget kak sangat menginspirasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin alat dan teknik pembuatan juga berbeda ya mbak Tapi bisa juga ini idenya untuk di tiru.

      Hapus
  10. Keren banget ya mba Alfira, saya salah satu yang membanggakan Mba, perempuan berdaya untuk bumi lebih baik lagi, sangat menginspirasi dan semoga menjadi inspirasi bagi banyak perempuan lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak, dari satu langkah mba Fira bisa merubah nasib orang lain.

      Hapus
  11. Inspiratif sekali nih. Semoga aksi ini semakin berkembang dan berdampak positif untuk lingkungan dan masyarakat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin semoga bisa menjadi contoh untuk kita semua untuk lebih semangat menciptakan karya dan ide

      Hapus
  12. Ternyata ayah Inspiratornya, ya. Hasilnya jadi kece gini. Moga bisnisnya makin berkembang pesat dan membawa kebaikan di bumi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak, dan mbak Fira mempersembahkan karya kemeja ecoprint dari kulit kayu lantung untuk ayahnya.

      Hapus
  13. Wah sama Umma juga salut dengan perjuangan mbak Alfira di ranah go green..Mencintai lingkungan dan menghasilkan produk yang ramah lingkungan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat membanggakan sekali ya umma dan menginspirasi

      Hapus
  14. Kreatif, unik dan menginspirasi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Setuju sosok ini mendapatkan apresiasi satu awards. Keren emang dedikasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget mbak..Aq sampai ikut seneng karena perjuangan dan perjalananya juga nggak main main

      Hapus
  15. Waaawww rekan sejawat saya dong nih lulusan Apoteker. Keren sekali Mbaknya ini sangat menginspirasi dan pantang menyerah buat menjaga kelestarian lingkungan. Memberikan influence yang baik juga bagi orang-orang dan lingkungan sekitarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah lulusan apoteker juga mbak, masyAllah. Bener mbak dampaknya tidak hanya ke lingkungan tapi juga masyarakat luas.

      Hapus
  16. Salut sama orang orang yang begini ya, tidak hanya berpikir pendek tentang apa yang bisa dilakukan sekarang, untuk sendiri, tapi bagaimana bisa bermanfaat untuk oranglain juga alam sekitar, agar hidup berkelanjutan dengan baik. Pemakmur bumi yang sebenar. Terimakasih mba muzeyyen sudah menghadirkan kisahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih kembali mbak..Semoga bermanfaat dan menginspirasi kita semua ya

      Hapus
  17. masyaAllah, aku belum belajar ecoprint jadi pengen juga bisa mengikuti jejak mba alfira. Semoga dimudahkan segala rusan mba Alfira.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin aamiin aku setuju mbak. Ayo semangat dan berkarya

      Hapus
  18. Seandainya digunakan di kain lain belum tentu secantik dan sesempurna di kain Landtung yaa.. Proses membuat Ecoprint ini ternyata panjang dan jadinya secantik itu.. Proses yang ramah lingkungan juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak. Pengaplikasian menggunakan kulit kayu Lantung lebih estetik dan bernilai jual tinggi

      Hapus
  19. Bagian terunik dari usaha ecoprint kak Alfira ini ada di kain Lantung ya. Soalnya kalau ide ecoprint saya rasa sudah ada beberapa yang menggunakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa unik dan lain dengan yang lainnya. Aku juga baru tahu ternyata ada dan bisa ya kulit kayu jadi media ecoprint

      Hapus
  20. Aku pernah ikutan ecoprinting ke kain kek gini hihi.. seru bangett tapiii effortnya itu loh yang ngga kuat kalo sering2 wakkaka soalnyaa butuh waktu yang panjaaaaanggg banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak.. prosesnya panjang tapi hasilnya bener-bener luar biasa ya

      Hapus
  21. Gak kabayang yaa tekunnya ngerjain ecoprint ini apalagi di print ke kain lantung..luar biasa memang dan patut diberi apresiasi..sukses mba Fira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ketekunan dan semangatnya ini pantas kita contoh

      Hapus
  22. ga nyangka bahkan sampai bisa ikut melestarikan kain Bengkulu ya. sudah ramah lingkungan, juga syarat lestari budaya. memang keren Mbak Alfira ini!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak, walaupun menggunakan bahan dari pohon lantung tapi mbak Fira juga memikirkan untuk proses penanaman kembali pohon tersebut

      Hapus
  23. Dari awal baca cerita tentang Kak Alfira Oktaviani, rasa terinspirasi tuh meletup-letup banget, eciye. Soalnya memang pelestarian budaya tuh perlu banget, ya salah satunya dari teknik ecoprint ini ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga gitu waktu ngobrol serasa jiwa dan semangat ini sangat membara

      Hapus
  24. Baca ulang kisah tentang Kak Alfira ini memang g ada habis-habisnya untuk kagum dengan perjuangannya dalam pelestarian lingkungan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak aku juga banga dan kagum dengan mbak Fira inj

      Hapus
  25. MasyaAllah keren banget, enggak salah Astra memilihnya sebagai penerima Award sangat menginspirasi proses kreatifnya.

    BalasHapus
  26. Bener banget mbak semoga kita juga bisa memberikan manfaat untuk orang lain juga ya mbak

    BalasHapus
  27. wah keren banget mbak Fira ternyata berkolaborasi dengan sesama penerima SATU indonesia award yaa. jadi penasaran sama kolaborasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya bener jadi penasaran juga pasti karya yang di hasilkan luar biasa.

      Hapus
  28. Masyaa Allah ya. Dengan adanya produk seperti Ecoprint, bergaya bagi kita tetap bisa ramah lingkungan. Idenya keren poool.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget mbak pengen juga seperti mbak Fira memberikan manfaat untuk orang lain.

      Hapus
  29. Ecoprint sendiri dari tumbuhan eh diaplikasikan ke kulit kayu kok jadi kepo ya lihat proses pembuatannya seperti apa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayunya dibuat kain dulu dengan cara dipukul-pukul, aku juga baru tahu ada kayu bisa buat kain.

      Hapus
  30. ditengah pesatnya perkembangan teknologi, salut ada sosok inspiratif yang terus membumikan ecoprint kulit kayu lantung. Yg menurut sy mahal harganya, tapi setelah tahu sejarah dan upaya menghasilkan kain ecoprint bikin takjub ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa bener mbak akü juga merasa sangat takjub ide yang dlkeluarkan mba Flra bukan ide yang biasa

      Hapus
  31. Kreatif banget, memanfaatkan sumber daya yang ada, salut dengan usaha mbak Fira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Usahanya membuahkan hasil, semoga klts semua blsa mencontoh langkah baik mba Fira

      Hapus
  32. Wah keren sekali mbak, sangat menginspirasi...ingin bages juga belajar tentang ecoprint.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga tertarik banget mbak, semoga suatu saat bisa membuat karya dari ecoprint juga..

      Hapus
  33. Keren banget bisa ecoprint ke media kulit kayu lantang. Aku pernah ikutan kelas ecoprint dan memang seru, susah-susah gampang!

    BalasHapus

Posting Komentar